Total Tayangan Halaman

Senin, 30 Januari 2012

TEKNIK MANAJEMEN PROYEK MENGGUNAKAN PERT DAN CPM (Bagian 1)

oleh : Heri Purnomo

PERT (Program Evaluation and Review Technique) dan CPM (Critical Path Methode) dikembangkan di tahun 1950-an untuk membantu para manajer melakukan penjadwalan, pemantauan serta pengendalian proyek-proyek besar dan kompleks. CPM muncul terlebih dahulu di tahun 1957 sebagai perangkat yang dikembangkan oleh J.E. Kelly dari Remington Rand dan M.R. Walker dari dupont untuk membantu pembangunan dan pemeliharaan pabrik kimia di dupont. Secara terpisah, PERT dikembangkan ditahun 1958 oleh Booz, Allen dan Hamilton untuk angkatan laut Amerika Serikat.

PERT dan CPM mengikuti enam langkah dasar berikut :
1.    Menetapkan proyek dan menyiapkan struktur penguraian kerja
2.    Membangun hubungan antara aktivitas-aktivitasnya. Memutuskan aktivitas yang harus dilakukan lebih       dahulu dan aktivitas yang harus mengikuti aktivitas lain
3.    Menggambarkan jaringan yang menghubungkan keseluruhan aktivitas
4.    Menetapkan perkiraan waktu dan atau biaya untuk setiap aktivitas
5.    Menghitung jalur waktu terpanjang melalui jaringan yang disebut dengan Jalur Kritis
6.    Menggunakan jaringan untuk membantu perencanaan, penjadwalan dan pengendalian proyek

PERT dan CPM sangat penting karena mereka membantu menjawab pertanyaan berikut mengenai proyek-proyek dengan ribuan aktivitas, diantaranya :
1.    Kapan keseluruhan proyek akan selesai?
2.    Apa sajakah aktivitas atau tugas penting pada proyek – yaitu aktivitas-aktivitas yang bila terlambat akan membuat keseluruhan proyek tertunda ?
3.    Aktivitas apakah yang nonkritis – yakni aktivitas yang dapat berjalan lambat tanpa membuat tertundanya penyelesaian keseluruhan proyek ?
4.    Berapa besar probabilitas proyek dapat selesai pada tanggal tertentu ?
5.    Pada tanggal tertentu, apakah proyek masih tetap dalam jadwal, lebih lambat dari jadwal atau lebih cepat dari jadwal ?
6.    Pada tanggal tertentu, apakah uang yang dibelanjakan sama, lebih sedikit, tau lebih besar dibandingkan uang yang dianggarkan ?
7.    Apakah cukup sumber daya untuk menyelesaikan proyek tepat waktu ?
8.    Jika proyek ingin diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat, pakah jalan terbaik untuk mencapai sasaran ini dengan biaya seminimal mungkin ?

Langkah pertama dalam jaringan PERT atau CPM adalah membagi keseluruhan proyek menjadi aktivitas-aktivitas yang signifikan, sesuai dengan struktur penguraian kerja. Ada 2(dua) pendekatan untuk menggambar jaringan proyek yaitu Aktivitas pada titik (Activity On Node- AON) dan aktivitas pada panah (Activity On Arrow – AOA). Berdasarkan kesepakatan, untuk AON, titik menunjukkan aktivitas, sedangkan pada AOA, panah menunjukkan aktivitas. Aktivitas memerlukan waktu dan sumber daya. Perbedaan mendasar antara AON dan AOA adalah titik pada diagram AON mewakili aktivitas. Pada jaringan AOA, titik mewakili waktu mulai dan selesainya suatu aktivitas yang disebut kejadian. Hal ini berarti titik pada AOA tidak menghabiskan waktu maupun sumber daya.

Perbandingan Pemakaian Jaringan AON dan AOA
A datang sebelum B yang datang sebelum C
A dan B harus selesai sebelum C dapat dimulai

Kamis, 26 Januari 2012

Innovation Learning

ASPEK DARI INNOVATION LEARNING

Pendahuluan

Inovasi dalam belajar sangat diperlukan, karena manusia sebagai obyek dari pembelajaran tersebut tidak bersifat statis. Sehingga perlu adanya sedikit kreatifitas untuk menurunkan kadar kejenuhan yang dialami. Inovasi yang baik, harus dapat menghasilkan sebuah gaya baru dan metode baru yang memancarkan kemilauan pemikiran untuk sebuah produk ekslusif.

Lalu timbul sebuah pertanyaan, bagaimana belajar yang penuh inovasi ? Ternyata untuk menciptakan belajar yang penuh inovasi tidak semudah seperti membalik telapak tangan. Perlu ada usaha dan keinginan yang kuat untuk melakukan hal tersebut, serta perlu dukungan suasana yang kondusif dari lingkungan sekitarnya.

Didalam tulisan ini penulis mencoba memberikan sumbangsih pemikiran, tentang bagaimana belajar yang inovatif itu (innovatian Learning).

Innovation Learning

Yang dimaksud dengan innovation learning (belajar dengan Inovasi) adalah bagaimana membuat suatu learning (Proses belajar) itu penuh dengan inovasi baru dan penuh dengan makna (many value).

Learning didalam bahasa Indonesia dapat diartikan belajar atau mendidik. Didalam kalimat learning ini mengandung makna memberitahu, mengarahkan dan membentuk dari sesuatu yang sedikit makna (less value) menjadi penuh makna (many value). Berarti didalam learning ini terjadi proses transformasi yang begitu hebat sehingga menghasilkan manusia-manusia yang handal dan berakhlak.

Setidaknya ada 3 (tiga) aspek untuk menjadikan suatu learning menjadi innovation learning, yaitu :

  1. Improvement (pertumbuhan)
  2. Development (pengembangan)
  3. Empowerment (pemberdayaan)


Improvement (Pertumbuhan)

Kata kunci dari aspek ini adalah kedewasaan. Suatu pendidikan / pembelajaran yang penuh inovasi harus mampu menghasilkan manusia-manusia yang mempunyai kedewasaan dalam berfikir dan emosional. Lalu timbul pertanyaan bagaimana menimbulkan kedewasaan ini ?. Kedewasaan akan timbul jika ada suri teladan yang positif dari para pendidik untuk peserta didiknya. Kelihatannya mudah secara teoritis tetapi akan terasa cukup sulit secara praktis jika tidak didorong dari itikad baik untuk melakukannya. Pertumbuhan (improvement) tidak hanya melihat dari satu sisi manusianya saja, akan tetapi sistem pendidikan yang diterapkan juga sangat menentukan proses ini. Sistem pendidikan yang hanya mengobral janji tanpa memberikan kualitas akan punah di telan gelombang perubahan dari era globalisasi dan teknologi. Evaluasi dan design ulang harus dilakukan jika ingin tetap eksis dan tumbuh.

Development (Pengembangan)

Aspek development mempunyai arti seseorang menjadi sukses lewat pendidikan / belajar yang didapatnya dari sebuah lembaga pendidikan atau proses belajar mengajar dan kemudian membagi kesuksesannnya untuk orang lain, sehingga terjadi proses duplikasi. Aspek ini sangat menjadi perhatian masyarakat, karena dengan hal ini masyarakat akan mampu memberikan penilaian yang objektif terhadap kualitas pendidikan atua kualitas dari proses belajar mengajar yang selama ini berjalan.

Empowerment (Pemberdayaan)

Aspek ini mempunyai titik tekan pada pengembangan potensi diri. Proses innovation learning harus mampu memancing potensi-potensi positif pada seseorang untuk menjadi suatu keahlian yang nantinya harus diduplikasikan kembali kepada orang lain. Innovation Learning mengajarkan bagaimana untuk senantiasa mandiri dan kreatif didalam mengambil peluang-peluang yang ada, serta dapat menciptakan juara sejati. Seorang juara sejati dapat bangkit kembali disaat ia jatuh.

Kesimpulan

Ketiga aspek diatas jika dilakukan secara sinergi dan berkelanjutan maka hasil yang diharapkan pun akan tercapai. Tentunya hal tersebut perlu suatu itikad baik yang kuat serta dukungan yang baik dari semua pihak dan lingkungan sekitarnya.

Kamis, 03 Juli 2008

MEMETAKAN PEMIKIRAN DAN RENCANA

Di Tulis Oleh : Heri Purnomo


Banyak rencana dan harapan yang kita punya terkadang kandas begitu saja. Dan

mungkin juga kita sering merasa bingung dengan keterbatasan kemampuan yang kita miliki. Banyak perencanaan dan pemikiran yang dibuat akan tetapi tidak satupun dari perencanaan dan pemikiran tersebut mengenai sasaran. Bahkan terkadang pemikiran kita terpecah belah tanpa arah. Ketidak kosentrasian kita dalam merencenakan masa depan membuat kita tidak mempunyai langkah yang tepat untuk menyambut masa depan yang penuh tantangan.

Dalam sebuah kajian atau diskusi yang pernah penulis ikuti dengan tema “Metode Berpikir”, banyak memberikan masukan kepada penulis tentang bagaimana mengarahkan rencana-rencana dan pemikiran yang dapat kita lakukan. Dan padakesempatan ini penulis mencoba berbagi wacana kepada pembaca tentang bagaimana memetakan pikiran kita atau yang disebut sebagai Mapping Mind set.

Otak manusia yang terdiri dari miliaran sel syaraf merupakan suatu potensi luar biasa yang diberikan oleh sang pencipta bagi manusia untuk dapat mengem,bangkan kehidupan didunia ini. dan sekarang dikembalikan lagi kepada kita sebagai manusia untuk mengoptimalkannya. Salah satu cara mengoptimalkan fungsi otak adalah dengan berfikir positif dan logis agar dapat membuat rencana-rencana dan pemikiran yang kita miliki menjadi sesuatu yang berguna. Dan ternyata mengoptimalkan hal tersebut bukan sesuatu yang mudah. Banyak harapan yang dibuat akan tetapi tak pernah terwujud dalam sebuah realitas dan hanya menjadi lamunan diatas kursi goyang.

Diantara realitas dan harapan ada jarak atau pemisah (gap/barrier). Jarak atau pemisah tersebut dapat berupa kesulitan-kesulitan baik bersifat internal maupun eksternal yang menghambat laju gerak kita. Salah satu penyebab jarak atau pemisah ini timbul dikarenakan kita tidak mampu keluar dari logic box.

Lalu timbul sebuah pertanyaan apakah logic box itu ? Logic box dapat diartikan sebagai aturan-aturan, konsep atau norma yang berlaku, dimana isi dari aturan, konsep atau norma tersebut mengikat kebebasan kita berpikir.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak ditemukan kata-kata yang mengandung Logic Box,diantaranya :

a. “Kamu kalau sudah lulus kuliah, nanti langsung kerja disuatu perusahaan.”

b. “Kalau jadi orang tuh jangan macam-macam, yang biasa-biasa saja.”

c. “Kalau sudah jadi sarjana, pasti dapat kerjaan yang enak.”

Dari contoh diatas terlihat jelas bahwa kita sering terkurung oleh aksioma-aksioma yang terkadang membuat kita menjadi impotensi (kehilangan potensi diri). Misalnya saja pada contoh kalimat pertama diatas, dimana ada pernyataan bahwa orang yang telah lulus kuliah selalu diasumsikan untuk menjadi karyawan disebuah perusahaan. Padahal mungkin secara realita tidak semuanya seperti itu, kita punya banyak pilihan dengan potensi yang kita miliki misalnya saja jadi seorang entrepreuneur, pengusaha atau hal lain yang bisa kita kerjakan.

Oleh karena itu kita perlu melakukan sesuatu agar dapat keluar dari yang namanya “Logic Box” tersebut. Setidaknya ada 3 (tiga) hal yang harus dilakukan untuk keluar dari logic box, yaitu :

1. Kuatkan tekad / Niat

Tekad dan kemauan yang kuat dalam diri seseorang akan memberikan suatu kekuatan semangat yang sangat luar biasa untuk dapat menghadapi segala tantangan yang ada didepan mata guna meraih cita-cita. Kekuatan tekad / niat tentunya tidak datang dengan sendirinya perlu sebuah latihan yang keras dan dorongan semangat dari lingkunganeksternal.

2. Optimalkan Usaha

Setelah modal tekad yang kuat kita raih, langkah selanjutnya adalah mengoptimalisasikan langkah dan usaha kita. Di dalam optimalisasi usaha banyak yang dapat kita lakukan diantaranya pembuatan strategi yang jitu untuk dapat meraih hal yang kita inginkan.

3. Tawakal

Satu hal yang paling penting kita kita sudah menguatkan tekad dan mengoptimalkan usaha kita adalah tawakal kan hasilnya pada sang pencipta. Karena mungkin diluar rencana kita, ada hal yang dapat terjadi.

Setelah kita dapat keluar dari logic box yang kita miliki, maka langkah selanjutnya adalahmemetakan pemikiran kita (Mapping mind set) agar tepat mengenai sasaran didalam sebuah realitas. Ada 6 (Enam) langkah untuk melakukan Mapping Mind Set, yaitu :

a. Mind Map

Pada langkah ini, kita memetakan rencana-rencana dan pemikiran-pemikiran kita dalam bentuk visual map (Langkah dan rencana harus dituangkan dalam bentuk tulisan) sehingga kita dapat melihat apa saja rencana-rencana dan pemikiran yang kita miliki.

b. Focus

Pada langkah ini, kita mencoba memberikan perhatian khusus pada rencana-rencana dan pemikiran tersebut.

c. Underline

Pada tahap ini, kita garis bawahi focus yang kita buat sehingga menjadi sebuah perhatian penting bagi kita.

d. Asumption

Setelah kita punya focus dan telah digaris bawahi kemudian buat asumsi positif dari hal tersebut.

e. keyword

Setelah asumsi dibuat, cari kata kunci dari hal/rencana tersebut.

f. Raise question

Setelah kata kunci ditemukan, buat pertanyaan balik terhadap diri sendiri, akankah kita konsisten dengan rencana dan pemikiran ini.

Kamis, 26 Juni 2008

Bergegaslah dalam kebaikan

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Al Abaqarah 148

Dalam ayat ini Allah memerintahkan fastabiqul khahiraat (bersegeralah dalam berbuat baik). Imam An Nawawi dalam kitabnya Riyadhush shalihiin meletakkan bab khusus dengan judul: Babul mubaadarah ilal khairaat wa hatstsu man tawajjaha likhairin ‘alal iqbaali ‘alaihi bil jiddi min ghairi taraddud (Bab bersegera dalam melakukan kebaikan, dan dorongan bagi orang-orang yang ingin berbuat baik agar segera melakukannya dengan penuh kesungguhan tanpa ragu sedikitpun). Lalu ayat yang pertama kali disebutkan sebagai dalil adalah ayat di atas. Perhatikan betapa Imam An Nawawi telah memahmi ayat tersebut sebegai berikut:

Pertama, bahwa melakukan kebaikan adalah hal yang tidak bisa ditunda, melainkan harus segera dikerjakan. Sebab kesempatan hidup sangat terbatas. Kematian bisa saja datang secara tiba-tiba tanpa diketahui sebabnya. Karena itu semasih ada kehidupan, segeralah berbuat baik. Lebih dari itu bahwa kesempatan berbuat baik belum tentu setiap saat kita dapatkan. Karenanya begitu ada kesempatan untuk kebaikan, jangan ditunda-tunda lagi, tetapi segera dikerjakan. Karena itu Allah swt. dalam Al Qur’an selalu menggunakan istilah bersegeralah, seperti fastabiquu atau wa saari’uu yang maksudnya sama, bergegas dengan segera, jangan ditunda-tunda lagi untuk berbuat baik atau memohon ampunan Allah swt. Dalam hadist Rasulullah saw. Juga menggunakan istilah baadiruu maksudnya sama, tidak jauh dari bersegera dan bergegas.

Dalam sebuah buku tentang kisah orang-orang saleh terdahulu diceritakan salah seorang dari mereka berpesan: maa ahbabta ayyakuuna ma’aka fil aakhirat if’alhul yaum. Wamaa karihta ayyakuuna ma’aka fil aakhirat utrukul yaum (apa yang kau suka untuk dibawa ke akhirat kerjakan sekarang juga. Dan apa yang kau suka untuk kau tidak suka untuk di bawa ke akhirat tinggalkan sekarang juga). Ini menggambarkan sebuah sikap kesigapan dalam memilah dan memilih perbuatan mana yang baik dan mana yang buruk. Tentu secara fitrah tidak ada manusia yang suka membawa dosa-dosa ke akhirat, kecuali orang-orang yang sudah mati hatinya. Karena itu makna fastabiquu pada ayat di atas memang benar-benar sangat penting -kalau tidak mau dikatakan sebuah keniscayaan- untuk selalu kita amalkan.

Kedua, bahwa untuk berbuat baik hendaknya selalu saling mendorong dan saling tolong menolang. Imam An Nawawi mengatakan: wa hatstsu man tawajjaha likhairin ‘alal iqabaal ‘alaihi. Ini menunjukkan bahwa kita harus membangun lingkungan yang baik. Lingkungan yang membuat kita terdorong untuk kebaikan. Karena itu dalam hadits yang menceritakan seorang pembunuh seratus orang lalu ia ingin bertaubat, disebutkan bahwa untuk mencapai tujuan taubat tersebut disyaratkan akan ia meninggalkan lingkungannya yang buruk. Sebab tidak sedikit memang seorang yang tadinya baik menjadi rusak karena lingkungan. Karena itu Imam An Nawawi menggunakan al hatstsu yang artinya saling mendukung dan memotivasi. Sebab dari lingkungan yang saling mendukung kebaikan akan tercipta kebiasaan berbuat baik secara istiqamah.

Lebih dalam jika kita renungkan makna ayat fastabiquu kita akan menemukan makna bahwa di mana kita memang harus menciptakan lingkungan. Sebab dalam kata tersebut terkandung makna “berlombalah”. Dalam perlombaan tidak mungkin sendirian, melainkan harus lebih dari satu atau lebih. Maka jika semua orang berlomba dalam kebaikan, otomatis akan tercipta lingkungan yang baik. Karena dalam ayat yang lain Allah swt. berfirman dalam surah Ali Imran,133: wasaari’uu ilaa maghfiratin mirrabbikum di sini Allah swt. menggunakan kalimat wa saari’uu diambil dari kata saa ra’a- yusaa ri’u maksudnya tidak sendirian, melainkan ada orang lain yang juga ikut bergegas. Seperti dhaaraba-yudhaaribu artinya saling memukul. Dalam makna ini tergambar keharusan adanya lingkungan di mana sejumlah orang saling bergegas untuk berbuat baik. Bagitu juga dalam surah Al Hadid, 21, Allah berfirman: saabiquu ilaa maghfiratin mirr rabbikum, kata saabiquu mengandung makna saling berlombalah. Suatu indikasi bahwa menciptakan lingkungan yang baik adalah sebuah keniscayaan.

Langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang baik ini adalah dengan memulai dari diri sendiri dan keluarga. Allah swt. berfirman: quu anfusakum wa ahliikum naaraa. Perhatikan dalam ayat ini, Allah swt hanya focus kepada diri sendisi dan keluarga dan tidak melebar kepada masyarakat luas dan Negara. Mengapa? Sebab inilah jalan terbaik dan praktis untuk memperbaiki sebuah bangsa. Kita harus memulai dari diri sendiri dan keluarga. Sebuah bangsa apapun hebatnya secara teknologi, tidak akan pernah bisa tegak dengan kokoh bila pribadi dan keluarga yang ada di lamanya sangat rapuh.

Ketiga, bahwa kesigapan melakukan kebaikan harus didukung dengan kesungguhan yang dalam. Imam An Nawawi mengatakan: bil jiddi min ghairi taraddud . Kalimat ini menunjukkan bahwa tidak mungkin kebaikan dicapai oleh seseorang yang setengah hati dalam mengerjakannya. Rasulullah saw. bersabda: baadiruu fil a’maali fitanan ka qitha’il lailill mudzlim, yushbihur rajulu mu’minan wa yumsii kaafiran, ,wa yumsii mu’minan wa yushbihu kaafiran, yabi’u diinahu bi ‘aradhin minad dunyaa (HR. Muslim). Dalam hadits ini Rasulullah saw. mendorong agar segera beramal sebelum datangnya fitnah, di mana ketika fitnah itu tiba, seseorang tidak akan pernah bisa berbuat baik. Sebab boleh jadi pada saat itu seseorang dipagi harinya masih beriman, tetapi pada sore harinya tiba-tiba menjadi kafir. Atau sebaliknya pada sore harinya masih beriman tetapi pada pagi harinya tiba-tiba menjadi kafir. Agama pada hari itu benar-benar tidak ada harganya, mereka menjual agama hanya dengan sepeser dunia.

Uqbah bin Harits ra. pernah suatu hari bercerita: “Aku shalat Ashar di Madinah di belakang Rasulullah saw. kok tiba-tiba selesai shalat Rasulullah segera keluar melangkahi barisan shaf para sahabat dan menuju kamar salah seorang istrinya. Para sahabat kaget melihat tergesa-gesanya Rasulullah. Lalu Rasulullah keluar, dan kaget ketika melihat para sahabatnya memandangnya penuh keheranan. Rasulullah saw. lalu bersabda: Aku teringat ada sekeping emas dalam kamar, dan aku tidak suka kalau emas tersebut masih bersamaku. Maka aku segera perintahkan untuk dibagikan kepada yang berhak (HR. Bukhari).

Dalam perang Uhud, kesigapan untuk berbuat baik seperti yang dicontohkan Rasulullah barusan, nampak sekali di tengah sahabat-sahabatnya. Jabir bin Abdillah meriwayatkan bahwa pernah salah seorang bertanya kepada Rasulullah saw.: Wahai Rasul, apa yang akan aku dapatkan jika aku terbunuh dalam peperangan ini? Rasulullah menjawab: Kau pasti dapat surga. Seketika orang tersebut melepaskan kurma yang masih di tangannya, lalu berangkat ke tengah medan tempur dengan tanpa ragu, lalu ia berperang sampai terbunuh. (HR. Bukhari-Muslim). Subhanallah, sebuah kenyataan dalam sejarah, di mana umat Islam harus memiliki kwalitas seperti ini. Wallahu a’lam bishshawab.

Mengenai Saya

Foto saya
Selatan Jakarta, Ciputat dan sekitarnya, Indonesia
Funs, and .....tergantung anda melihatnya